Menerima apa adanya.. apa maksud kalimat ini??

Aku terima kamu apa adanya…ngga, aku ga setuju.

I love you just the way you are,

no matter what they say,

but I just wanna say that I will always love you just the way you are…

Sering denger kan ungkapan seperti ini?

Ungkapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya.

Ungkapan seorang boyfriend kepada girlfriendnya, atau sebaliknya.

Awalnya saya juga berpikiran seperti itu, alangkah indahnya suatu hubungan jika satu sama lain bisa menerima apa adanya.

”Aku yaa seperti ini, berandalan, nakal, ga tau diri, cuek.. apa kamu bisa menerima aku yang seperti itu,” tanya pacar kepada soulmatenya.

Dan dijawab singkat sang soulmate, ”yeah, I do.. I love you just the way you do..”

oow, tulus sekali rasanya.

Tapi seiring jalannya waktu, semakin terlihat apa adanya dirinya.

Apa tidak ada sedikitpun keinginan dari hati sang pacar untuk berubah dari ‘apa adanya’ menjadi seseorang yang ‘lebih baik’?

Konteks menerima apa adanya, apa maksud kata ini?

Sampai sekarang saya belum mengerti.

Apakah itu berlaku selamanya?

Apa jadinya kalau di kemudian hari dalam kata apa adanya itu terkandung maksud lain yang lebih buruk?

“Aku yaa seperti ini, suka judi, suka maen perempuan, suka selingkuh, suka bantai orang, suka bunuh kambing yang ketemu di jalan….”

Oke, oke, maapp……contoh tadi terlalu ekstrim.. hehe.

Tapi maksudnya sama, kalau apa adanya sang pacar itu menjadi masalah di lain waktu yang mengganggu hubungan, apa pantas itu dipertahankan?

“Aku yaaa seperti ini yang ga bisa mengerti perempuan”

-yaaa belajar toh
yooo….

“Aku yaa seperti ini, yang suka ga peduli perasaan perempuan”

-yaa ampunn, buat apa kamu pacaran???

”Aku ya seperti ini, yang terus perlebar pesona untuk orang lain”

-oh no, i’ve made mistake in decision by choosing you..

Menerima apa adanya,, sepanjang itu menyangkut hal2 lain di luar ’perasaan’, itu lah konteks menerima apa adanya.

Tentang ekonomi, itu lah menerima apa adanya.

Waktu, itulah menerima apa adanya.

Masa lalu, itu juga yang disebut menerima apa adanya.

Tetapi tentang menjaga perasaan, tidak ada kata apa adanya.

Itu mutlak harus ditambah dari waktu ke waktu.

Dijaga dipertahankan dan diterus tumbuhkan.

*egois*

Comments (3)